Long March Mahasiswa Unpar, 14 Mei 1998

Sukses, Aman, dan Simpatik

Pertama kali dalam sejarah, ribuan mahasiswa Unpar sukses menggelar Long March.

Longmarch.JPG (11012 bytes)
Long March Mahasiswa UNPAR


Adanya anggapan bila aksi mahasiswa turun ke jalan akan memicu kerusuhan dan memakan korban, ternyata dibantah oleh ribuan mahasiswa Unpar. Mereka membuktikannya kemarin sore, usai menghadiri mimbar akbar mahasiswa di halaman Gedung Sate. Mereka mulai berjalan dengan membentuk barisan sepanjang 100 meter. Tujuannya tak tanggung-tanggung, pulang ke Kampus Ciumbuleuit yang kurang lebih 5 km jaraknya.

Dengan kawalan ketat dari satgas, mahasiswa Unpar dan beberapa personil Dalmas Polwiltabes Bandung, rombongan long march melewati beberapa jalan utama di Bandung. Seperti Jl. Surapati, Jl. Juanda (Dago), Jalan Siliwangi hingga Jl. Ciumbuleuit.

Meski sempat menimbulkan kemacetan, rombongan long march tidak mengundang kerusuhan sedikit pun. Malah, rombongan mendapat simpati dan sambutan yang hangat dari masyarakat baik yang menonton dari pinggir jalan maupun yang sedang berkendara. Sambutannya berupa kepalan tangan ke atas dan meniru sorakan reformasi yang didengungkan rombongan. Banyaknya simpati dan sambutan itu setidaknya mengobati rombongan long march – diikuti juga oleh beberapa dosen Unpar – yang mulai kelelahan di sepanjang Jl. Siliwang i dan Jl. Ciumbuleuit.

Sebelum melakukan long march, pagi jam 10:00 WIB dilakukan penggalangan massa mahasiswa oleh satgas aksi di Kampus Ciumbuleuit, tepatnya di lapangan parkir rektorat. Namun selama setengah jam, satgas aksi masih sibuk mengajak mahasiswa yang masih "bert eduh" di plaza dan di gedung kampus agar bergabung dengan massa aksi yang masih puluhan orang walau harus berjemur ria. Namun hal itu tidak mengganggu orasi yang diberikan beberapa mahasiswa dan dosen. Malah seorang mahasiswi berseru, "Jangan pikir bisa j adi sarjana kalau reformasi belum ada."

Namun massa mulai membludak begitu Sabam Sirait - anggota PDI Perjuangan – tiba dan tak lama kemudian memberi orasi selama 45 menit yang didengar antusias oleh massa. Lalu, Pak Dede – mantan penjual pisang keju yang merasakan getirnya krisis ekonomi – yang menggugah massa. Ia merasa bahwa rakyat seperti dia dipinggirkan oleh pemerintah. "Saya merasa takut sekali ketika mendaftar sekolah ditanya ‘punya uang berapa?’ Selalu ditanya uang. Tidak ada uang, tidak sekolah. Lalu kapan mau pintar?" keluhnya.

Selanjutnya seorang mahasiswa Fakultas Filsafat dan seorang mahasiswa ITB mendapat sambutan gemuruh ketika masing-masing membacakan "Panca Dosa" dan "Proklamasi Kedua". Setelah itu tepat jam 12:00 WIB diadakan hening cipta disertai raungan sirene selam a 5 menit mengenang korban-korban reformasi (terakhir di Tri Sakti) yang gugur di medan aksi. Selama orasi, nampak tidak satupun aparat keamanan yang beseragam berjaga-jaga di sekitar kampus.

Setelah sebagian massa yang muslim mengadakan sholat di lapangan parkir rektorat, maka massa mulai bersiap-siap bergabung dengan mimbar akbar mahasiswa di halaman Gedung Sate. Dengan diangkut 8 truk dan 2 bus dari aparat keamanan, 20 mobil angkot ditam bah beberapa mobil pribadi dan sepeda motor dengan kawalan beberapa aparat, maka massa mahasiswa Unpar yang sudah mencapai ribuan mulai bergerak ke halaman Gedung Sate jam 13:20 WIB.

Selama perjalanan, sambil menyanyikan lagu perjuangan dan pekikan reformasi – termasuk pekikan gantung Soeharto – rombongan mendapat aplaus dan sambutan yang hangat dari masyarakat di pinggir jalan. Lima belas menit kemudian rombongan turun di sebelah gedung Pertamina dan secara tertib bergerak ke lapangan Gasibu - berseberangan dengan halaman Gedung Sate yang sudah penuh sesak oleh puluhan ribu massa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung.

Selama satu setengah jam massa Unpar bergabung dengan massa universitas lain di lapangan Gasibu. Walau sempat diguyur hujan selama 10 menit, namun tidak membubarkan rombongan Unpar. Tepat jam 15:00 WIB, rombongan Unpar didaulat untuk "berparade" di hal aman Gedung Sate yang disambut sangat meriah oleh massa yang sudah berkumpul di situ. Di sebelah Gedung Sate terdapat Gedung DPRD yang telah "diduduki" mahasiswa sampai di atas genteng sejak 2 hari terakhir.

Setengah jam kemudian, rombongan Unpar meninggalkan lokasi dan bergerak kembali ke kampus. Setelah terjadi negosiasi dengan aparat keamanan – yang berubah 180o menjadi kooperatif dan simpatik – maka rombongan Unpar diijinkan melakukan long m arch yang bersejarah itu. Dengan tertib mereka tak kenal lelah berjalan sambil bernyanyi sesekali memekikan teriakan "Hidup Reformasi". Beberapa polisi yang mengawal mereka tampak selalu tersenyum setiap digoda dan setiap polisi yang dijumpai, berjabat ta ngan sembari menerima pemberian bunga dari rombongan.

Ketika melewati Jl. Siliwangi sempat terbetik kabar bahwa Soeharto sudah turun. Kontan isu tersebut diterima emosional oleh rombongan. Akibatnya lagu "Sorak Sorai Bergembira" kembali dilantunkan secara lantang. Beberapa mahasiswa bahkan terlanjur membe ritahukan kabar yang belum tentu benar itu kepada pengemudi-pengemudi kendaraan yang melewati mereka. Jam 17:00 WIB rombongan mulai memasuki Kampus Ciumbuleuit dan segera mendatangi wartel dan pos satpam yang mempunyai TV untuk memastikan kebenaran isu te rsebut dari siaran berita AN-teve dan SCTV. Di lapangan parkir rektorat juga tersedia TV yang disiapkan oleh satgas. Namun ketika isu tersebut belum benar, timbul kekecewaan dari beberapa mahasiswa. Sehingga lucunya, salam reformasi yang biasa didengungka n mahasiswa ketika bertemu dengan temannya endadak berubah menjadi "Salam Gantung". (Shita, Erwin, Renee/rra)


Sabam Sirait

Tidak Percaya Sebelum Soeharto Benar-Benar Turun

Tidak percuma bila ia dielu-elukan massa mahasiswa Unpar sejak kedatangannya di Kampus Ciumbuleuit. Mantan anggota DPR ini dalam orasinya menyatakan, bahwa ia identik dengan Thomas (salah satu murid Yesus). "Karena saya baru percaya dia (Soehart o) mundur, kalau dia betul-betul mundur jadi presiden," tegasnya yang disambut meriah oleh massa. Ia merasa tidak yakin karena pada tahun 1988 Soeharto di depan SU-MPR ia menyatakan inilah terakhir kalinya dilantik sebagai presiden. "Itu tahun 1988, sekar ang tahun berapa?" tanyanya yang disambut gelak tawa mahasiswa. "Ada yang mengatakan dia tidak akan mundur, (jadi) dia harus dimundurkan dari kursi presiden," lanjutnya.

Kemudian pendukung PDI Perjuangan (Megawati) itu percaya bahwa dari 200 juta rakyat Indonesia pasti ada presiden yang lebih baik dari Soekarno dan Soeharto. Akhirnya menurutnya tidak rasional bila presiden sampai menjabat lebih dari 30 tahun karena dia nggapnya sudah tidak kreatif. "Orang yang menjadi direktur rumah sakit pun tidak boleh lebih dari 10 tahun, bahkan menjadi rektor unpar pun tidak boleh terlalu lama," tegasnya yang langsung "di-iyakan" oleh massa. Menurutnya para founding fathers s eperti Bung Karno dan Bung Hatta pun tidak ingin berlama-lama menjadi presiden.

Mengenai tindakan represif dan sadis dari aparat keamanan dalam hal ini ABRI, Sabam melihatnya sebagai suatu hal yang bertentangan dengan esensi terbentuknya ABRI yang berjanji melindungi rakyat, termasuk mahasiswa." Kalau ABRI tidak melindungi rakyat, berarti menghianati sejarah berdirinya ABRI,"tegasnya.

Ketika diminta komentarnya oleh reporter ParaHyangan tentang pernyataan Habibie bila MPR mengadakan sidang umum istimewa berarti melecehkan demokrasi,"Barangkali dia (Habibie) nggak ngerti de mokrasi itu apa. Dia harus belajar penjelasan UUD’45, sama seperti Bob Hasan," jelasnya. (rra)


This site is created and maintained by Andi Darmawan
Copyright 1998 Majalah ParaHyangan

Comments and suggestions about this homepage must be sent directly to webmaster-l@warnet.unpar.ac.id
Jl. Ciumbuleuit 94 Bandung - 40141 Telp (022)-2042390
Last updated on 27 November 1998